Jiwa Tanpa Rumah
Sebuah jiwa yang tak pernah memiliki rumah,
pada akhirnya hanya tinggal dan berteduh di hamparan pepohonan.
Ia berjalan, tertatih, mencari bayang-bayang kehangatan
di antara rintik sunyi dan desir angin yang tak bernama.
Sebuah jiwa petualang yang mencari rumah—
bukankah tak pantas jika disandingkan
dengan jiwa yang telah lama berpasrah?
Karena yang satu mengembara, yang lain memilih diam.
Jiwa-jiwa menyerbu menjadi satu,
bertemu di simpang jalan takdir yang tak pasti,
membentuk sebuah ilusi tak berbentuk,
hanya gema tanpa arah, tanpa tujuan,
dan perlahan, kehilangan wujudnya sendiri.
Pada akhirnya, mereka menjadi bayang,
menjadi akhir bagi jiwa-jiwa yang berkeliaran tanpa perasaan.
Jiwa-jiwa sedih itu,
berakhir pada kebinasaan—
bukan karena dunia tak memeluk,
tapi karena mereka tak tahu
bagaimana rasanya pulang.
Hamparan harapan yang jiwa itu tinggalkan
berubah menjadi halusinasi tak berpenghuni.
Jiwa yang tadinya diam
berakhir menjadi pemberontakan sunyi—
berteriak dalam hening,
memanggil langit yang tak lagi mendengar.
Dan pada akhirnya,
jiwa yang tak bisa kembali,
tak lagi sanggup mengembalikan
hamparan bintang kepada langit.
Komentar
Posting Komentar