Rasa yang tak kunamai
Aku tak pernah percaya
pada cinta yang lahir dari sekejap pandang.
Selama ini, aku menertawakan kisah-kisah film
di mana hati bisa terguncang hanya oleh tatapan
terlalu cepat, terlalu mustahil.
Hingga hari itu,
di tengah hiruk-pikuk kehidupan
matanya menyeberang pandanganku—
Beberapa detik
dan dunia serasa berhenti sejenak.
Jantungku berdetak aneh,
ada getar halus yang tinggal
meski tatapannya segera hilang
di antara tawa dan kesibukan teman-teman.
Aku mencoba menenangkan diri.
Tidak seharusnya aku jatuh.
Ia hampir menyelesaikan langkahnya,
sedang aku baru memulai jejak pertamaku.
Babnya mungkin akan menutup,
sementara aku masih membuka halaman yang belum bernama.
Aku bertanya pada hatiku:
apakah ini cinta,
atau hanya kagum yang bersembunyi di balik mata?
Apakah tatapan singkat itu sebuah tanda,
atau sekadar ilusi yang kucipta sendiri?
Namun, setiap kali aku mengingatnya,
hangat dan hampa bergabung menjadi satu.
Hangat karena ada rasa yang tumbuh,
hampa karena aku tahu ia mungkin tidak untukku.
Aku mencoba merelakan,
tetapi ada bagian dari diriku
yang ingin menahan sejenak,
ingin percaya bahwa pertemuan itu bukan kebetulan.
Dan kadang, ketika kulihat ia bergerak
di antara keramaian
aku tersadar—tatapan itu bukan sekadar tatapan.
Hanya di momen itu,
di tempat yang sama,
hatiku jatuh, diam-diam,
pada sosok yang hadir dikehidupanku
tanpa aku duga,
tanpa aku kenal lebih jauh.
Aku tidak tahu apakah ini nyata,
atau hanya kagum yang terbungkus rapi dalam rasa yang asing.
Namun aku belajar satu hal:
kadang cinta hadir bukan untuk dimiliki,
tapi untuk dirasakan,
sejenak, di tempat yang sama,
dalam momen yang hanya terjadi sekali.
Komentar
Posting Komentar